Kamis, 19 Mei 2016

Resensi Film "The Pursuit of Happyness" oleh Clara Artha T.S


Resensi Film The Pursuit of Happyness
oleh Clara Artha T.S

Film yang diambil dari kisah nyata seorang berkebangsaan Amerika yang bernama Chris Gardner ini tentu sangat menarik untuk ditonton. Pasalnya film yang disutradarai oleh Gabriele Muccino pada tahun 2006 ini banyak mengandung pesan-pesan yang sangat bagus, terutama semangat hidup seorang ayah dengan anak lelakinya. Cerita film ini dimulai pada tahun 1981 di San Fransisco. Chris, yang diperankan oleh Will Smith, mempunyai seorang anak yang bernama Christopher yang diperankan oleh Jaden Smith dan seorang istri yang bernama Linda yang diperankan oleh Thandie Newton. Chris sangat yakin dengan pekerjaannya sebagai salesman bone scanner. Ia menghabiskan seluruh uangnya untuk membeli alat-alat tersebut. Memang kualitas dari bone scanner yang dijualnya lebih bagus dari mesin X-ray, tetapi harganya sangat mahal, itu yang membuat alat tersebut susah terjual. Keadaan ekonomi keluarga Chris sangat terpuruk. Banyak tunggakan biaya yang harus dibayar seperti sewa rumah, biaya sekolah Christopher, dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Belum lagi sifat buruk Chris yang sering memarkirkan mobilnya sembarangan sehingga membuat Chris harus membayar denda.

Suatu hari, Chris bertemu dengan seorang pria yang turun dari sebuah mobil mewah. Chris menanyakan 2 pertanyaan kepada pria tersebut. Pertanyaan pertamanya adalah apa pekerjaan pria tersebut dan pertanyaan keeduanya adalah bagaimana ia bisa melakukan hal itu. Pria tersebut menjawab pertanyaan Chris, yaitu sebagai seorang pialang saham. Chris terlihat sangat tertarik dengan pekerjaan itu. Ia pun datang ke perusahaan yang bernama Dean Witter itu dan mencoba melamar pekerjaan. Tentunya proses melamar pekerjaan yang dia alami tidaklah mudah. Belum lagi Linda sang istri yang memutuskan untuk meninggalkan Chris dan Christopher dan pindah ke New York. Keadaan yang Chris alami semakin sulit ketika ia diusir dari tempat tinggalnya. Chris dan Christopher pun akhirnya memilih tinggal di tempat penampungan tuna wisma. Tetapi tidak setiap saat ia dapat tinggal disana karena harus mengantri untuk mendapatkannya. Yang lebih parah lagi, Chris dan Christopher pun pernah tidur di toilet. Ditengah sibuknya magang di perusahan tersebut, tetapi Chris tetap meluangkan waktu untuk Christopher dan berusaha untuk tetap menjual bone scanner miliknya. Selama masa trainingnya, Chris bertemu dengan banyak kenalan baru yang mau diajak kerjasama dengan perusahaan tersebut. Setelah hampir 6 bulan masa trainingnya, ia  pun mengikuti tes yang hanya memilih satu orang dari dua puluh peserta yang ada. Setelah masa akhir trainingnya, Chris tiba-tiba dipanggil untuk masuk ke sebuah ruangan yang berisi pemimpin-pemimpin perusahaan tersebut. Betapa bahagianya Chris saat ia mengetahui bahwa ia diterima menjadi seorang karyawan di perusahaan Dean Witter itu. Chris langsung berlari untuk menemui Christopher dan ia sangat senang.

Setelah memulai karir nya di Dean Witter, Chris Gardner mendirikan perusahaan jasa layangan keuangan sendiri yang diberi nama Gardner Rich pada tahun 1987.
Film “The Pursuit of Happyness” ini mengajarkan kita agar jangan mudah menyerah dalam kondisi sangat sulit sekalipun. Jika kita mau berusaha, kita pasti bisa. Tidak ada yang menyangka Chris yang hidupnya sulit kini bisa menjadi orang yang sukses. Di film ini juga menceritakan Chris tetap tidak lupa berdoa dan beribadah untuk memperoleh kekuatan dalam mengahadapi masalah hidupnya. Hal itu disampaikan dalam adegan film saat Chris dan Christopher pergi ke sebuah gereja untuk beribadah. Pesan lain yang dapat dikutip dari film ini adalah jika kita punya impian kita harus menjaganya. Jika kau menginginkan sesuatu, gapailah itu. Jangan biarkan seorang pun menganggap kita tidak bisa. Pertolongan Tuhan dapat terjadi di hidup kita. Mungkin kita sering menganggap bahwa Tuhan tidak mendengarkan doa kita, tetapi sesungguhnya banyak cara lain yang Tuhan tunjukkan untuk menolong kita dan kita sering tidak menyadari hal itu.

Sumber :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar